Artikel

MENCEGAH DAN MENANGANI STIGMA SOSIAL SEPUTAR COVID-19

11 September 2020 00:56:59  Administrator  164 Kali Dibaca  Berita Desa

Sanggi.id-  Pandemi COVID-19 muncul bersamaan dengan stigma sosial di tengah masyarakat. Namun, hal ini dapat dicegah dan ditangani bersama oleh individu maupun pihak-pihak terkait. 

Di tengah wabah COVID-19, muncul satu fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi, yakni stigma sosial atau asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit.

Sebagai penyakit baru, banyak yang belum diketahui tentang pandemi COVID-19. Terlebih manusia cenderung takut pada sesuatu yang belum diketahui dan lebih mudah menghubungkan rasa takut pada “kelompok yang berbeda/lain”. Inilah yang menyebabkan munculnya stigma sosial dan diskriminasi terhadap etnis tertentu dan juga orang yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini.

Perasaan bingung, cemas, dan takut yang kita rasakan dapat dipahami, tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga, ataupun mereka yang tidak sakit tapi memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19. Jika terus terpelihara di masyarakat, stigma sosial dapat membuat orang-orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi, mencegah mereka mencari bantuan kesehatan dengan segera, dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat.

Daripada menunjukkan stigma sosial, alangkah lebih bijak jika kita berkontribusi secara sosial, yaitu dengan:

1) membangun rasa percaya pada layanan dan saran kesehatan yang bisa diandalkan;

2) menunjukkan empati terhadap mereka yang terdampak;                                           

3) memahami wabah itu sendiri;                 

4) melakukan upaya yang praktis dan efektif sehingga orang bisa menjaga keselamatan diri dan orang yang mereka cintai.

Pemerintah, warga negara, media, influencer, dan komunitas memiliki peran penting dalam mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita, khusus Kita semua harus berhati-hati dan bijaksana ketika berkomunikasi di media sosial dan wadah komunikasi lainnya.

Misalnya, para influencer, pemimpin agama, pejabat publik, dan tokoh masyarakat dapat memperkuat pesan yang mengurangi stigma, mengundang khalayak untuk merenung dan berempati pada orang-orang yang terstigma, dan mengumpulkan gagasan untuk mendukung mereka. 

Rumah sakit, lembaga penelitian, universitas, dan institusi lainnya dapat meluruskan hoaks dengan fakta-fakta. Stigma sosial bisa terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang COVID-19 (bagaimana penyakit ditularkan dan diobati, dan cara mencegah infeksi). Yang paling penting untuk dilakukan adalah penyebaran informasi yang akurat dan sesuai dengan komunitas tentang daerah yang terkena, kerentanan individu dan kelompok terhadap COVID-19, opsi perawatan, dan di mana masyarakat dapat mengakses perawatan dan informasi kesehatan. Gunakan bahasa sederhana dan hindari istilah klinis.

Para jurnalis hendaknya menerapkan jurnalisme beretika. Pelaporan jurnalistik yang terlalu fokus pada tanggung jawab pasien karena mengidap dan “menyebarkan COVID-19” dapat memperburuk stigma. Sebagai gantinya, media massa bisa mempromosikan konten seputar praktik pencegahan infeksi dasar, gejala COVID-19, dan kapan harus mencari perawatan kesehatan. Hal ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan bukannya menebar kepanikan yang tidak perlu. Selain itu, untuk meredam kegelisahan sosial, jurnalis juga dapat meliput orang-orang yang telah pulih dari COVID-19 serta para “pahlawan” untuk menghormati tenaga kesehatan dan komunitas relawan yang berperan baik.

Upaya dalam meminimalisir  Stigma Negatif COVID-19 di masyarakat

  1. Komunikasi resiko yang lebih baik.
  2. Pemberitaan media terkait informasi yang utuh soal penularan virus yang selama ini sering tidak sampai ke masyarakat sangat mempengaruhi stigma terhadap orang terkait Covid-19 baik itu OTG, ODP, PDP, pasien positif dan keluarga pasien serta Nakes.
  3. Media yang hanya fokus pada pertumbuhan kasus & kurangnya keterbukaan informasi perihal penanganan Covid-19.

Contoh informasi positif tentang tenaga medis yang dapat disampaikan

  • Seorang perawat yang menangani pasien covid19 telah melakukan berbagai protokol kesehatan saat merawat pasien covid-19 
  • Melindungi diri semaksimal mungkin dengan APD sesuai standar
  • Memiliki ilmu pengetahuan yang cukup untuk menangani pasien covid-19
  • Mengikuti syarat ketat untuk melepaskan pakaian dinas, keluar RS ataupun bertemu dengan keluarga/masyarakat
  • Merawat dengan keiklasan, bahkan berjuang nyawa untuk merawat pasien covid-19

Maka dari itu :

  1. Jangan memberikan beban tambahan dengan menjauhi, menolak, mendiskreditkan mereka dimasyarakat karena ini sangat menyakitkan
  2. Jangan membicarakan mereka, berbisik-bisik dihadapan mereka sebagai penular penyakit
  3. Menjauhkan atau mengejek keluarga mereka karena beranggapan sebagai penular penyakit.
  4. Berikan apresiasi kepada tenaga medis dan petugas lain yang merawat pasien covid19
  5. Memperluas akses dukungan psikososial/kesehatan mental/kesehatan jiwa

Dengan cara memperbanyak informasi-informasi tentang pencegahan dan penanganan kesehatan mental di masa pandemi covid19 ini. Tokoh agama dan masyarakat memegang peran penting membantu masyarakat menghadapi pandemi COVID-19. Tokoh agama dan masyarakat dapat membantu dengan memastikan semua orang mendapat informasi yang benar dan tidak menyebar hoax atau informasi yang salah. Mereka juga dapat membuat WA Group bagi lingkungan setempat agar warga selalu menerima informasi terkini.

Upaya yang bisa dilakukan

  1. Sampaikan pesan-pesan kesehatan kunci dan  pasang poster-poster
  2. Ketahui fakta-fakta dan berbagilah pada sesama untuk membantu mengurangi ketakutan dan kecemasan
  3. Bantu masyarakat untuk menghindari hoax dan informasi yang salah
  4. Bantu hilangkan stigma pada kelompok orang yang dipersepsikan sebagai pembawa virus
  5. Bantu agar setiap keluarga dapat memiliki sarana dan mau mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir
  6. Bantu agar warga tahu apa yang harus dilakukan bila mengalami gejala
  7. Identifikasi kelompok warga yang berisiko tinggi: kelompok lansia (lanjut usia) dan mereka dengan penyakit menahun (kronis) seperti diabetes, penyakit jantung, paru-paru dan informasikan cara mengurangi risiko tertular virus corona

Mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita tidak sulit bila semua pihak bersatu padu dalam berkomitmen untuk tidak menyebarkan prasangka dan kebencian pada kelompok tertentu yang terkait dengan COVID-19. Kita semua  dapat ikut berperan untuk meminimalisir stigma negatif tersebut demi upaya bersama menanggulangi pandemi ini.

sumber-https://www.unicef.org/media/65931/file/Social stigma associated with the coronavirus disease 2019 (COVID-19).pdf

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Aparatur Desa

Back Next

JADWAL SHOLAT & IMSAK

  • Imsak: Imsak:
    Subuh: Subuh:
    Terbit: Terbit:
    Dhuha: Dhuha:
    Dzuhur: Dzuhur:
    Ashar: Ashar:
    Maghrib: Maghrib:
    Isya: Isya:

Peta Desa

Kantor Desa Sanggi

Komentar Terkini

Arsip Artikel

Info Media Sosial

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:101
    Kemarin:258
    Total Pengunjung:99.562
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.91.92.194
    Browser:Tidak ditemukan